Makalah Bahasa Arab_Metode Pemecahan Masalah Dalam Al-Qur'an_Sofia Aulia_PIAUD 1B

 

MAKALAH BAHASA ARAB



           
                                       METODE PEMECAHAN MASALAH

DALAM AL-QURAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Disusun Oleh :

Sofia Aulia

 

FAKULTAS AGAMA ISLAM

PENDIDIKAN ISLAM ANAK USIA DINI

UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG

2020

 

 



KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam. Atas izin dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah tepat waktu tanpa kurang suatu apapun. Tak lupa saya haturkan shalawat serta salam kepada junjungan Rasulullah Muhammad SAW. Semoga syafaatnya mengalir pada kita di akhir kelak, Aamiin.

Penulisan makalah berjudul ‘Metode Pemecahan Masalah’ bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Arab. Pada makalah diuraikan beberapa isi materi dari judul makalah ini. Proses penyusunan makalah ini saya mendapatkan bantuan dan bimbingan dari Pak Khalid Ramadhani, M.Pd selaku dosen Bahasa Arab.

Akhirul kalam, saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Besar harapan saya agar Bapak atau pembaca lainnya berkenan memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Aamiin.

                                                                                    Jakarta, 05 November 2020


                                                                                                   Penyusun

                                                                                                  Sofia Aulia   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Contents

BAB I. 4

PENDAHULUAN.. 4

1.1 Latar Belakang Masalah. 4

1.2 Rumusan Masalah. 9

1.3 Batasan Istilah. 9

1.4 Tujuan Penelitian. 10

1.5. Kegunaan Penelitian. 10

BAB II. 11

LANDASAN TEORI. 11

2.1 Problem Solving. 11

1. Defenisi Masalah ( Problem ). 11

2. Defenisi Problem Solving. 12

3. Metode Pemecahan Masalah. 12

2.2 Alquran. 14

1. Pengertian Al-Quran. 14

2. Kandungan Isi Al-Quran. 14

BAB III. 15

PROBLEM SOLVING.. 15

DALAM AL-QURAN ANALISIS. 15

TAFSIR AL-AZHAR.. 15

3.1. Langkah-langkah Pemecahan Masalah dalam Alquran. 15

1. Musyawarah dan Diskusi 15

2. Analisis Situasi dalam Al-Quran. 16

3. Analisis Persoalan Potensial Dalam Al-Quran. 17

4. Analisis Keputusan dalam Al-Quran. 18

5. Analisis Persoalan Potensial Dalam Al-Quran. 19

3.2 Sikap Pemecah Masalah Dalam Pandangan Al-Quran. 19

BAB IV.. 20

PENUTUP. 20

A.Kesimpulan. 20

1. Langkah-langkah Penyelesaian Masalah. 20

2. Sikap Pemecahan Masalah dalam Al-Quran. 21

B. Saran . 22

DAFTAR PUSTAKA.. 23

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang Masalah

Di Indonesia banyak terdapat lembaga-lembaga maupun organisasi-oraganisasi yang berbasis Islam. Mulai dari partai politik, organisasi masyarakat, lembaga keuangan, dan lain sebagainya telah banyak mengadopsi sistem syariah yang merupakan bahagian dari ajaran Islam. fenomena ini terus berkembang beriringan dengan berkembangnya studi-studi keilmuan tentang Islam.

Setiap lembaga, organisasi, ataupun kelompok yang berbasis Islam tersebut, tidak bisa menafikan tentang kehadiran masalah di tengah proses pencapaian tujuan yang sedang mereka jalankan. Hal ini sering menjadikan tujuan dari lembaga maupun ormas tersebut sedikit perlahan melambat untuk pencapaiannya, bahkan jika salah dalam mengambil keputusan solusi atas masalah bisa berakibat fatal.

Masalah yang hadir dalam lingkup lembaga maupun organisasi menuntut kepada pimpinan mengambil sebuah keputusan solusi atas masalah tersebut. Disinilah peran dari seorang leader dapat dirasakan, sebab keputusan yang ia ambil akan mempengaruhi elektabilitas lembaga yang ia pimpin dan tentunya anggota atau karyawan yang berada dibawah naungannya. Jika keputusan solusi yang diambil oleh pimpinan tersebut tepat maka hal ini bisa mempertahankan bahkan meningkatkan elektabilitas dari lembaga yang ia pimpin dan tentunya posisi yang sedang ia duduki.

Suatu organisasi, lembaga maupun kelompok akan berhasil atau bahkan gagal sebagian besar ditentukan oleh kepemimpinan. Suatu ungkapan mulia yang mengatakan bahwa pemimpinlah yang bertanggung jawab atas kegagalan pelaksanaan suatu pekerjaan, merupakan ungkapan yang mendudukkan posisi pemimpin dalam suatu lembaga atau organisasi berada pada posisi yang terpenting.

Di dalam Alquran juga dijelaskan mengenai tentang posisi masalah dalam hidup manusia diberbagai aspek. Dalam Alquran Surah Al-Balad ayat 4 Allah Swt berfirman:

 

 Yang Artinya: Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. (Q.S Albalad, Ayat 4).

Ayat ini memberikan penjelasan bahwa hakikatnya masalah itu dimiliki oleh setiap individu ataupun kelompok dalam kehidupan manuisa. Buya Hamka menjelasakan dalam Tafsirnya Al-Azhar bahwa kesusahan adalah bahagian dari hidup, dalam kesusahan itulah Tuhan menciptakan kita. Sehingga setiap pekerjaan baik ataupun pekerjaan buruk, semuanya meminta kepayahan. Sehingga memberikan nafkah batin kepada isteri pun meminta tenaga dan kepayahan.

Kepayahan dan kesulitan adalah merupakan bahagian dari sebuah masalah dan kehadirannya hampir dirasakan oleh setiap manusia didalam ruang lingkup yang berbeda-beda. penafsiran Buya Hamka dari ayat di atas menjelaskan akan keberadaan 1 Miftah Thoha, Kepemimpinan Dalam Manajemen  hlm. 1. masalah dalam setiap aspek kehidupan, baik itu secara individual, maupun kelompok. Dan masalah yang hadir di tengah-tengah kelompok, lembaga, maupun organisasi memiliki prioritas utama untuk mendapat penyelesaian. Karena didalam sebuah lembaga, organisasi, ataupun kelompok dampak negatif dari masalah akan lebih besar dirasakan jika masalah itu dibiarkan begitu saja. Akan tetapi masalah apapun itu dan hadir dimanapun masalahnya hakikatnya adalah untuk diselesaikan. Dalam Q.S al-„Ankabut Ayat 2 Allah SWT berfirman :

 

Yang Artinya :Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?(Q.S al- „Ankabut Ayat 2).

Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari asy-Syu‟bi meriwayatkan tentang Asbabun Nuzul dari ayat ini, bahwa orang-orang yang berada dikota Mekah yang telah memeluk Islam, mendapat surat dari sahabat-sahabat Rasulullah saw. yang berada di Madinah. Isi surat tersebut menyatakan bahwa keislaman mereka tidak akan diterima kecuali jika mereka berhijrah. Maka berhijrahlah mereka ke Madinah. Akan tetapi mereka dapat disusul oleh kaum musyrikin, sehingga digiring kembali ke Mekah. Setelah turun ayat ini (Q.S. 29 al- „Ankabut: 1-2), orang-orang yang berada di Madinah mengirim surat kembali kepada mereka. Merekapun berangkat kembali berhijrah dan bertekad untuk memerangi orang-orang yang menghambatnya. Pada waktu itu kaum musyrikin mengikuti kaum Musliminin yang berhijrah itu, dan karenanya mereka pun memerangi kaum musyrikin itu. Sebahagian dari kaum Musliminin ada yang terbunuh dan sebahagian lagi dapat menyelamatkan diri.

Asbabun Nuzul di atas, jika ditarik dalam kehidupan memberikan gambaran bahwa, jika manusia telah berani mengatakan atau memilih suatu posisi tertentu maka bersiaplah untuk dihadapkan dengan berbagai persoalan atau masalah yang ada. apabila seseorang telah memilih untuk menjadi seorang Muslimin maka bersiaplah untuk menerima ujian dari Allah, jika seseorang memilih untuk berkeluarga maka bersiaplah untuk menghadapi berbagai persolan keluarga. Begitu pula halnya dengan kepemimpinan, jika seseorang telah memilih untuk menjadi seorang pemimpin maka bersiaplah berhadapan dengan berbagai persoalan dalam sebuah kepemimpinan.

Persoalan-persoalan atau masalah yang hadir dalam sebuah lembaga atau organisasi tidak jarang menjadikan pimpinan dari lembaga atau organisasi tersebut merasakan ketidaknyamanan dalam hidupnya. sebagaimana yang telah dijelaskan di atas bahwa kehadiran masalah ini akan sangat berpegaruh terhadap elektabilitas lembaga dan posisi yang ia duduki. Tidak sedikit para pimpinan menganggap ini sebuah kesempatan yang besar untuk meningkatkan prestasinya, dan tidak jarang pula kehadiran masalah dianggap sebagai sebuah bumerang yang akan menghancurkan prestasi seorang pimpinan maupun lembaga atau organisasi yang ia pimpin.   

Jemmy Setiawan berkata bahwa manusia dengan masalah ibarat manusia dengan pakaiannya. Dan pada akhirnya manusia akan mampu menemukan ukuran dan model yang pas untuk dirinya. Berny Gomulya penulis The Lider In You juga berkata dalam “Kata Pengantar” bukunya yang berjudul Problem Solving And Decision Making For Improvement juga mengatakan, Bahwa Tuhan tidak hanya menyediakan jawaban atau kunci untuk setiap masalah yang kita alami, tetapi Tuhan juga bijak dalam mengukur kemampuan dan kapasitas kita dalam menanggung persoalan. Tuhan tidak akan pernah memberikan soal yang melebihi kemampuan kita.

Allah Swt Berfirman dalam Alquran Surah Al-Baqarah Ayat 286:

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya....

(Q.S al-Baqarah ayat 286).

Perkataan Berny di atas sangat sesuai dengan firman Allah dalam ayat ini. Hal ini benar membuktikan bahwa memang pada dasarnya setiap masalah atupun ujian yang hadir dalam kehidupan mausia tidak pernah melebihi kapasitas kemampuan manusia itu sendiri. Suatu hal yang harus diketahui oleh manusia bahwa Allah tidak hanya menyesuaikan kapasitas kemampuan dengan masalah akan tetapi Allah menyertakan kemudahan dalam masalah itu sendiri.

Dalam Q.S Al-Insyirah ayat 6 Allah berfirman

Yang Artinya: sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S al-Insyirah ayat 6).

Ke-dua Ayat di atas memberikan gambaran bahwa manusia dalam hal ini pemimpinan sebenarnya mampu untuk menemukan jalan atau langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah yang ia hadapi, karena masalah yang diberikan tidak melebihi batas kemampuannya.

Dalam manajemen istilah pemecahan masalah dikenal dengan Problem Solving. Problem solving merupakan suatu cara yang dapat merangsang untuk menganalisis dan melakukan sintesis dalam kesatuan struktur dimana masalah itu berada. Metode ini menuntut kemapuan untuk melihat sebab akibat atau relasi-relasi diantara berbagai data, sehingga dapat menemukan solusi dari masalah yang ada.

Dalam pemecahan masalah biasanya lembaga ataupun organisasi membentuk sebuah tim untuk menangani hal tersebut, dan tidak jarang pula sepenuhnya dilimpahkan kepada pimpinan untuk menyelesaikannya. Untuk dapat memecahkan sebuah masalah bukanlah perkara mudah semudah membalikkan kedua telapak tangan. Dibutuhkan cara-cara tersendiri untuk dapat menemukan masalah, akar masalah dan juga solusi atas masalah.

Di dalam Alquran secara umum juga dijelaskan mengenai langkah-langkah atau cara menyelesaikan masalah. Secara umum Allah Swt dalam kitab suci Al-Quran memerintahkan manusia untuk melakukan evaluasi atau instropeksi diri guna untuk menemukan kesalahan-kesalahan masa lalu untuk kemudian diperbaiki.

Dalam Q.S al-Hasyr ayat 18 Alla Swt Berfirman :

Yang Artinnya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.                        (Q.S al-Hasry ayat 18).

Secara tidak langsung ayat ini memerintahkan kepada seseorang yang ingin memecahkan sebuah masalah untuk memperhatikan persoalan yang telah terjadi. Berbicara problem solving menurut penulis erat kaitannya dengan muhasabah (instropeksi) dan juga evaluasi. Untuk menemukan akar masalah tentunya. Seorang pemecah masalah suka tidak suka, mau tidak mau harus memutar kembali ingatan tentang substansial dari sebuah persoalan, dan inilah yang diinginkan oleh ayat ini.

Kemudian di dalam ayat dan surah yang berbeda Al-Quran juga menjelaskan bahwa ketika akar masalah telah ditemukan dan keputusan telah ditetapkan maka segeralah untuk melakukan atau mengaplikasikan keputusan solusi yang didapatkan tersebut. Sebagaimana yang telah tertuang dalam Q.S al-Insyirah ayat 7

Yang Artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (Q.S al-Insyirah ayat 7).

Kehadiran masalah yang sangat disadari hendaknya membuka hati para pimpinan ormas-ormas maupun lembaga-lembaga Islam yang ada untuk menjadikan Al-Quran sebagai pedoman dalam menemukan langkah-langkah dalam penyelesaiannya. Sangat diharapkan bahwa organisasi-organisasi maupun lembaga-lembaga Islam tersebut berkiblat sepenuhnya kepada   Al-Quran untuk sistem keorganisasiannya dan tidak hanya sebatas nama guna menarik minat masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslimin untuk bergabung bersama mereka.

Mulai dari hal yang sangat mendasar dalam sebuah organisasi bahkan sampai perihal tentang pemecahan masalah hendaklah benar-benar didasarkan atas pedoman umat Islam yaitu Al-Quran. Akan tetapi fenomena di lapangan membuktikan masih banyak organisasi-organisasi Islam, baik itu partai politik, lembaga keuangan dan lain sebagainya masih minim sekali menggunakan Al-Quran secara seluruhnya/kaffah sebagai pedoman keorganisasiannya. Hal ini didorong oleh kemungkinan besar kurangnya minat para peneliti untuk menjadikan Al-Quran sebagai objek penelitiannya terutama dalam hal problem solving ini.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas menurut hemat penulis sangat beralasan sekali untuk mengangkatnya ke dalam sebuah tulisan ilmiah yang berbentuk makalah dengan judul “Problem Solving Dalam Al-Quran (Analisis Tafsir Al-Azhar)”.

 

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah Langkah-langkah Pemecehan dalam Alquran Menurut Tafsir AlAzhar? 2. Bagaimanakan Sikap Pemecahan Masalah dalam Alquran Menurut Tafsir AlAzhar?

 

1.3 Batasan Istilah

Berdasarkan judul di atas, maka peneliti perlu memberi batasan istilah untuk menghindari terjadinya salah pengertian atau pemahaman terhadap istilah-istilah yang digunakan dalam judul ini, yaitu :

1.      Problem Solving berasal dari bahasa Inggris yang memiliki arti “pemecahan masalah”. Problem solving ini adalah merupakan sebuah istilah dari pemecahan masalah dalam manajemen. Problem solving yang dimaksud dalam penelitian ini adalah untuk mencari langkah-langkah atau tahapan-tahapan pemecahan masalah yang terdapat di dalam Al-Quran serta sikap yang harus dimiliki seorang pemecah masalah.

2.      Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Al-Quran adalah kitab suci umat Islam yang   

diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. dengan perantaraan malaikat jibril untuk dibaca sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi umat manusia. Al-Quran yaitu kitab Allah yang diturunkan baik lafazh maupun maknanya kepada nabi terakhir, Muhammad Saw. yang diriwayatkan secara mutawatir, yakni dengan penuh kepastian dan keyakinan akan kesesuaian dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad. Yang ditulis pada mushaf mulai dari awal surat al-fatihah(1) sampai akhir surat an-Nas (114)7. Adapun Al-Quran dalam penelitian ini ialah bagaimana Al-Quran itu sendiri memandang tentang Problem Solving.

3.      Tafsir Al-Azhar adalah tafsir karangan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau

yang lebih dikenal dengan julukan Hamka. Beliau merupakan seorang ulama, sastrawan, sejarawan, dan juga politkus yang sangat terkenal di Indonesia. Beliau merupakan seorang pembelajar yang otodidak diberbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi, dan politik. Dalam penelitian ini problem solving dalam Alquran yang dimaksud adalah menggunakan analisis tafsir al-Azhar.

1.4 Tujuan Penelitian

Mengacu pada rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk:

1. Untuk mengetahui langkah-langkah pemecahan dalam Alquran menurut Tafsir Al-

    Azhar.

2. Untuk mengetahui sikap pemecah masalah dalam Alquran menurut Tafsir Al-Azhar.

 

1.5. Kegunaan Penelitian

Dengan tercapainya tujuan penelitian tersebut, diharapkan hasil penelitian ini memiliki signifikan dan berguna bagi berbagai pihak :

1. Sebagai bahan masukan kepada Fakultas Dakwah dll

2. Sebagai bahan studi perbandingan bagi kalangan mahasiswa maupun umum yang  

    berminat untuk mempelajari metode pemecahan masalah dalam Alquran.

     3. Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin meneliti masalah yang relevan  

    dengan judul yang penulis teliti.

            4. Sebagai bahan rujukan bagi lembaga-lembaga maupun ormas-ormas Islam dalam

menyelesaikan masalah.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Problem Solving

1. Defenisi Masalah ( Problem )

Secara umum masalah diartikan kesenjangan antara yang diharapkan dengan fakta yang didapatkan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indoesia masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan. Masalah adalah suatu deviasi antara yang seharusnya (Should) terjadi dengan suatu yang nyata (Actual) terjadi, sehingga penyebabnya perlu ditemukan dan diverifikasi. Menemukan daftar penyebab deviasi tersebut memerlukan analisis masalah / Problem Solving.  

Hasnun Jauhari mendefenisikan, bahwa masalah atau problem biasanya diartikan dengan ketidaksesuaian atau adanya kesenjangan antara teori dengan praktek; ketidak sesuaian atau adanya kesenjangan antara keinginan dengan kenyataan; atau juga sering disebut adanya kesenjangan atau ketidak sesuaian antara das sollen dengan das sein.

Dalam buku Problem Solving And Decision Making For Improvement yang ditulis oleh Berny Gomulya bahwa masalah didefeniskan sebagai segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk bertindak. Jika sesuatu terjadi, namun anda tidak tergerak untuk melakukan sesuatu, berarti hal tersebut bukan masalah bagi anda. Sebaliknya, jika sesuatu terjadi dan anda tergerak melakukan sesuatu, berarti hal tersebut adalah masalah bagi anda, namun belum tentu masalah bagi orang lain.

 Vincent Garsfersz dalam bukunya TOPS (Team Oriented Problem Solving) mendefenisikan Masalah sebagai berikut:

A.    Suatu masalah didefenisikan sebagai kesenjangan (gap) antara situasi sekarang dan target yang diinginkan.

B.     Dalam bidang kualitas, masalah adalah kesenjangan antara output dari proses sekarang dan kebutuhan pelanggan.

C.     Masalah pelayanan kualitas didefenisikan sebagai kesenjangan antara situasi sekarang dan target atau antara output proses jasa sekarang dan kebutuhan pelanggan.

Dari beberapa defenisi yang dipaparkan oleh beberapa ahli di atas dapatlah disimpulkan bahwa masalah adalah merupakan suatu keadaan yang keberadaannya tidak diinginkan oleh setiap manusia, karena terjadinya ketidak sesuaian antara apa yang menjadi harapan dengan kenyataan yang ada

2. Defenisi Problem Solving

Problem Solving diartikan sebagai proses penyelesaian suatu masalah atau kejadian. Problem Solving yaitu suatu proses mental dan intelektual dalam menemukan masalah dan memecahkan berdasarkan data dan informasi yang akurat, sehingga dapat diambil kesimpulan yang tepat dan cermat. Problem solving yaitu suatu pendekatan dengan cara problem identifikation untuk ketahap syntesis kemudian dianalisis yaitu pemilahan seluruh masalah sehingga mencapai tahap application selajutnya komprehension untuk mendapatkan solution dalam penyelesaian masalah tersebut.

Problem Solving juga diidentikkan dengan pengambilan keputusan. Dimana pimpinan maupun kelompok yang menangani pemecahan masalah dituntut untuk membuat sebuah keputusan solusi atas masalah yang ada. Menurut Husaini Usman, pengambilan keputusan mempunyai peranan penting dalam memotivasi, kepemimpinan, komunikasai, koordinasi, dan perubahan organisasi

3. Metode Pemecahan Masalah

Ada banyak pendapat menurut para ahli yang begitu jelas dan terperinci, disini saya akan menggunakan pendapat menurut seorang ahli bernama Metode Berny Gomulya.

Berny Gomulya memberikan empat langkah yang harus dilakukan dalam menyelesaikan sebuah masalah dan mengambil sebuah keputusan di antara keempat langkah itu ialah :

1.      Analisis Situasi (What’s Ging On?)

-         Mengidentifikasi Masalah

-         Mengklarifikasi Masalah

-         Menentukan Prioritas Masalah

-         Menetapkan Respons yang Tepat Terhadap Masalah

2.      Analisis Persoalan (Why Did This Happen?)

-        Merumuskan Penyimpangan

-        Menentukan Fakta Persoalan

-        Menemukan Bukan Fakta Persoalan

-        Mencari Tahu Perbedaan Fakta dan Bukan Fakta

-        Mendeteksi Perubahan Yang Terjadi Pada Bidang Perbedaan

-        Mencari Sebab-Sebab yang Mungkin

-        Menguji dan Menetapkan Sebab-Sebab yang Paling Mungkin

-        Melakukan Verifikasi

3.      Analisis Keputusan (What’s Our Best Choice?)

-         Mendeskripsikan Tujuan keputusan

-         Membuat Sasaran

-         Mengklarifikasi Sasaran Mutlak dan Sasaran Keinginan

-         Menentukan Bobot Sasaran Keinginan

-         Mengelaborasi Alternatif

-         Mempertimbangkan Risiko Merugikan

-         Menetapkan Pilihan akhir

 

4.      Analisis Persoalan Potensial (What Could Go Wrong?)

-        . Merumuskan Rencana

-        . Merumuskan Rencana

-          Mengenali Langkah Kritis

-          Mengidentifikasi Persoalan Potensial

-          Mengidentifikasi Kemungkinan Sebab Persoalan Potensial

-          Membuat Tindakan Pencegahan

-          Membuat Tindakan penanggulangan

-          Membuat Sistem Kontrol

 

 

 

2.2 Alquran

1. Pengertian Al-Quran

Al-Quran atau sering pula disebut dengan kitabullah merupakan sumber utama ajaran Islam. terdapat beberapa defenisi. Banyaknya defenisi Al-Quran ini adalah merupakan hal yang wajar, sebab untuk merumuskan suatu defenisi Al-Quran yang dapat mencakup semua pengertian, sifat dan hakikat yang dimaksud beberapa patah kata sangat sulit sekali. Atas dasar itu, maka terwujudlah beberapa defenisi Alquran yang berbeda-beda rumusannya. Meskipun demikian, semua defenisi tersebut masih dapat diterima untuk dijadikan patokan bagi kita untuk mengetahui pengertian Al-Quran.

 

2. Kandungan Isi Al-Quran

Dari yang sudah kita ketahui tentunya sebagai seorang Muslim mengenai isi kandungan    Al-Quran, maka jelaslah bahwa Al-Quran merupakan betunjuk, pedoman, dan tuntunan bagi umat muslim dalam menjalani kehidupan dan juga menjadi rujukan dalam mengambil sebuah keputusan ketika manusia itu berbenturan dengan berbagai persoalan-persoalan dalam hidup.

 

  

BAB III

PROBLEM SOLVING

DALAM AL-QURAN ANALISIS

TAFSIR AL-AZHAR

 

3.1. Langkah-langkah Pemecahan Masalah dalam Alquran

1. Musyawarah dan Diskusi

Dalam Islam, melalui kitab sucinya Al-Quran bahwa setiap ingin meyelesaikan sebuah persoalan ataupun masalah, langkah awal yang harus dilakukan adalah musyawarah. Dalam persoalan apapun, bagaimanapun, baik itu dalam hal kepemimpinan, persoalan keluarga, maupun dalam hal problem solving ini, musyawarah adalah jalan utamanya.

 Menurut istilah musyawarah adalah meminta pendapat orang lain atau orang-orang yang berpengalaman pada suatu perkara atau masalah untuk mencapai pendapat yang lebih mendekati kebenaran. Dalam Q.S Ali-Imran ayat 159 Allah Swt berfirman:

 

Yang Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S Ali-Imran: 159)

            Dalam tafsir Al-Azhar yang dikarang oleh Buya Hamka dijelaskan, dalam menangani urusan agama, ibadah, syariat dan hukum dasar, itu semua dari Allah. Akan tetapi jika berkenaan dengan urusan dunia semisal perang dan damai, menjalankan ekonomi, ternak, bertani, dan hubungan-hubungan biasa antara manusia (Human Relation), hendaklah dimusyawarahkan. Berdasarkan kepada pertimbangan maslahat (apa yang lebih baik untuk umum) dan mafsadat (apa yang membahayakan. Sebab tidak semua urusan duniawi dijelaskan secara rinci dalam     Al-Quran.

 

Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa Allah Swt memerintahkan Nabi Muhammad Saw agar mengajak orang-orang untuk bermusyawarah. Dalam ayat ini jelas bahwa Nabi Muhammad adalah pemimpin. Kepadanya datang perintah agar mengambil sebuah keputusan.

Setelah mendengarkan semua pertimbangan dan bertukar fikiran barulah beliau mengambil sembuah keputusan.

Dalam sebuah pemecahan masalah keputusan sebenarnya berada ditangan seorang pemimpin. Akan tetapi pemimpin harus menyadari bahwa yang paling memahami sebuah persoalan adalah bawahan yang melakukan langsung sebuah kegiatan itu. Katakanlah masalah produksi menurun atau konsumen berpaling, maka yang paling mengerti dalam hal ini adalah karyawan atau manajer pemasaran. Dengan itu pemimpin dalam hal ini perlu melakukan musyawarah dengan kepala bidang yang didalam bidangnya itu terdapat sebuah persoalan atau masalah.

 

2. Analisis Situasi dalam Al-Quran

   Langkah awal yang harus dilakukan dalam menyelesaikan masalah adalah dengan menganalisis situasi. Analisis situasi yang dimaksudakan oleh adalah dengan memecah komponen permasalahan yang dihadapi, hal ini dilakukan untuk mempermudah menjawab setiap masalah yang ada. Metode ini membantu penggunanya mengidentifikasi, memahami, dan menata masalah sesuai dengan urutan prioritasnya, serta mempermudah menentukan langkah berikutnya untuk menanggulangi setiap masalah. Analisis situasi yang menganjurkan untuk setiap pemecah masalah untuk mampu melihat, merenungkan situasi yang ada sehingga akan ditemukan masalah-masalah yang ada dan dipisah sesuai dengan urutan prioritas kepentingannya.

Dalam Alquran sangat banyak ditemukan ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk melihat, merenungkan, dan memikirkan kejadian-kejadian yang terdapat dipermukaan bumi ini, seperti yang tertuang dalam Q.S Al-Ghasyiyah ayat 17-20 :

 

Yang Artinya : Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan .18. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan.19. Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan 20. Dan bumi bagaimana ia dihamparkan.(Q.S AlGhasyiyah :17-20)

 

Disuruh memandang atau merenungkan dalam ayat ini bukan semata-mata melihat memandang-mandang saja. Melainkan membawa apa yang terlihat oleh mata kedalam alam fikiran dan difikirkan, itulah yang disebut memandang. Kira-kira seperti itulah analisis situasi melihat keadaan yang begitu rumit lalu memikirkan memilah-milah keadaan sehingga menjadikannya komponen-komponen yang terpisah antara komponen satu dengan yang lainnya.

Sebagaimana yang disinggung dalam ayat di atas seberapa mampu kita menganalisis sebuah situasi yang didalamnya banyak terdapat beberapa persoalan yang harus dipilah dengan menganalisis situasi tersebut. Sehingga didapatlah sebuah keputusan bahwa kebesaran Allah Swt adalah di atas segalanya.

Analisis situasi merupakan sebuah proses memecah komponen permasalahan yang sedang dihadapi, hal ini dilakukan untuk lebih mempermudah menjawab setiap masalah. Metode ini adalah metode yang membantu penggunanya mengidentifikasi, memahami dan menata masalah sesuai dengan urutan prioritasnya, serta melakukan langkah selanjutnya untuk menanggulangi masalah.

Kemungkinan besar dalam menganalisis situasi akan ditemukan banyak persoalan-persoalan yang terjadi. Sebagaimana yang termaktub dalam ayat di atas, disaat kita menganalisis, memikirkan, dan merenungkan kehidupan dunia ini gambaran yang didapat adalah tentang kebesaran Allah Swt. Kebesaran itu tidak hanya didukung oleh satu komponen saja, akan tetapi melengkapi satu sama lain mulai dari bagaimana, unta diciptakan, langit bagaimana ia diangkatkan, gunung bagaimana dia telah dipancangkan dan bumi bagaimana dia telah dihamparkan.

           

3. Analisis Persoalan Potensial Dalam Al-Quran

Langkah kedua dalam memecahkan masalah adalah dengan menganalisis sebab-sebab potensial. Menganalisis sebab-sebab potensial adalah tahap pemecahan masalah ketempat mana pertanyaan perlu diajukan dan informasi perlu dikumpulkan serta disaring. Dalam Q.S An-Nahal ayat 79 Allah Berfirman :

 

Yang Artinya ; Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman. (An-Nahal :79)

Jika pada ayat sebelumnya kita diperintahkan untuk merenungkan beberapa komponen didalam suatu situasi. Maka dalam ayat ini kita diperintahkan untuk melihat khusus atau memperhatikan dengan baik satu komponen dan sebab mengapa komponen ini menjadi sebuah keadaan yang sempurna atau menjadi permasalahan yang kompleks.

Begitu halnya dengan analisis sebab-sebab potensial kita harus mampu menganalisis suatu masalah yang telah menjadi masalah tunggal, tentang apa penyebab masalah itu terjadi sehingga mudah untuk merumuskan keputusan solusi atas masalah yang ada.

Sebelum menentukan persoalan, perlu untuk memahami persoalan itu sendiri dengan baik. Untuk membangun deskripsi yang menyeluruh dalam hal ini perlu dilakukan pengumpulan informasi yang spesifik mengenai persoalan yang dihadapi, beserta dampaknya. Informasi ini akan membantu mendapatkan gambaran, atau deskripsi, persoalan yang lebih jelas. Deskripsi persoalan juga membantu untuk menguji kemungkinan penyebab mana yang paling akurat.

 

4. Analisis Keputusan dalam Al-Quran

Pembuat keputusan berarti membuat pilihan yang bijak atas pertukaran yang dilakukan. Keputusan yang efektif akan dihasilkan apabila kita sepnuhnya mengetahui, dan telah mempertimbangkan resiko-resiko yang meliputi keputusan itu, riset menunjukkan bahwa pengambilan keputusan yang efektif terlebih dahulu menelaah semua faktor yang ada, sebelum dia menjatuhkan pilihannya.

Dalam Q.S al-Hsyr ayat 18 Allah Swt telah mengingatkan untuk lebih hatihati dalam menetapkan sebuah keputusan yang akan dilakukan dihari esok, dengan melihat kembali apa yang telah dilakukan dimasa yang lampau.

 

Yang Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.                       (Q.S al-Hasyr 18)

Tafsir dari makna “dan hendaklah memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok” adalah berfikir, merenung dan bermenung, tafakur dan tadzakur (memikirkan dan mengingat) apalah yang diperbuatnya untuk hari esok.74 Ayat ini memberi peringatan yang cukup jelas dalam memutuskan sebuah keputusan yang didapat dari hasil evaluasi kembali dari analisis situasi dan persoalan yang telah dilakukan sehingga kemungkinan besar tepatnya sebuah solusi akan didapatkan.

Dalam mengambil sebuah keputusan bukanlah merupakan hal yang mudah. Sebab dalam menentukannya banyak hal yang harus dipertimbangkan dengan matang, dibutuhkan kemahiran yang sangat matang dalam menyeleksi dan menentukan keputusan yang paling tepat.

 

5. Analisis Persoalan Potensial Dalam Al-Quran

Sebagaimana yang telah dijelaskan di awal tadi bahwa sesungguhnya di setiap kesulitan pasti ada kemudahan, dan begitu juga sebaliknya disetiap kemudahan pasti ada kesulitan. Tidak akan pernah ditemukan kesulitan tampa kemudahan dan kemudahan tampa kesulitan.

Persoalan potensial adalah persoalan-persoalan yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang. Analisis ini adalah metode yang akan membantu kita memaksimalkan peluang keberhasilan saat kita menerapkan keputusan, perubahan, atau tindakan. Ini berarti kita mengantisipasi kemungkinan gagal dari setiap keputusan yang diambil

 

3.2 Sikap Pemecah Masalah Dalam Pandangan Al-Quran

1. Keyakinan Yang Kuat Bahwa Setiap Masalah Memiliki Solusi

2. Keimanan

3. Bertawakkal

4. Bersabar



 

BAB IV

PENUTUP

 

A.Kesimpulan

Setelah melakukan penelitian dengan menganalisis ayat-ayat yang berkaitan dengan problem solving, maka dapat disimpulkan bahwa problem solving dalam Alquran menurut Tafsir Al-Azhar sebagai berikut:

1. Langkah-langkah Penyelesaian Masalah

A. Musyawarah.

                  Musyawarah secara istilah adalah meminta pendapat kepada orang yang

          mengerti. Dalam hal problem solving, untuk menemukan suatu masalah diperlukan       

          bermusyawarah kepada orang-orang yang mengerti di bidangnya, misalnya saja     

          jika masalah ditemukan di bidang pemasaran maka karyawan ataupun manager

          pemasaranlah yang palig mengerti permasalahannya. Hal ini dapat dilihat dalam  

          Q.S. Ali-Imran ayat 159.

B. Analisis Situasi.

       Proses dalam menganalisis situasi diibaratkan seperti proses menemukan kebesaran Allah. Untuk melihat kebesaran yang Allah miliki, manusia tidak cukup hanya melihat satu komponen saja akan tetapi harus melihat komponen yang lainnya juga. Begitu juha dalam hal problem solving, seorang pemecah masalah harus mampu melihat masalah yang kompleks karena dalam sebuah masalah yang besar terdapat beberapa masalah. Hal ini dijelaskan dalam Q.S Al-Ghasyiyah ayat 17-20.

C.     Analisis Persoalan dan Sebab-sebab Potensial.

Analisis ini adalah tahap kedua setelah analisis situasi, dalam tahap ini seorang pemecah masalah dituntut agar lebih mampu melihat sebab akibat dari munculnya sebuah masalah. Hal ini dijelaskan dalam Q.S An-Nahal ayat 79. Dalam ayat ini memerintahkan untuk memperhatikan seekor burung bagaimana ia bisa terbang dan lain sebagainya, sama halnya dengan tahap ini seorang pemecah masalah harus mampu memperhatikan sebab apa sebuah masalah bisa terjadi.

D.    Analisis Keputusan.

Dalam Q.S Al-Hasyr Allah Swt memerintahkan manusia untuk kembali memperhatikan apa yang ia buat untuk hari esok. Ayat ini mengajarkan tentang bagaimana menganalisis keputusan yang tepat dari berbagai pilihan alternatif keputusan yang ada dengan mempertimbangkan tingkat keberhasilan dikemudian hari.

E.     Analisis Persoalan Potensial.

Perintah analisis ini terdapat pada Q.S AlInsyirah, dengan memahami dan meyakini bahwa setiap kesusahan pasti terdapat kemudahan dan begitu pula sebaliknya.

2. Sikap Pemecahan Masalah dalam Al-Quran

A. Keyakinan yang Kuat bahwa Setiap Masalah Memiliki Solusi. Hal ini didasari oleh

      Firman Allah Q.S Al-Insyirah dan juga Q.S Al-Baqarah ayat 286.

B. Keimanan.

            Keimanan menjadi salah satu sikap yang harus dimiliki sebab dalam Q.S   

      At-Taghaabun ayat 11 Allah berfirman bahwa dengan imanlah seseorang akan   

      mendapat petunjuk.

C.     Bertawakkal.

Tawakkal bukan berarti manusia cukup hanya berpangku tangan dalam

menghadapi sebuah masalah, sebagai makhluk manusia memiliki keterbatasan disegala bidang. Maka dengan itu usaha tetap dilaksanakan akan tetapi hasil dari usaha itu serahkan sepenuhnya kepada Allah

D.    Bersabar.

Tetap bersabar atas ketentua yang diberika oleh Allah adalah kunci utamanya. Memiliki sikap sabar dalam menyelesaikan masalah amat sangat penting sebab ada ungkapan yang mengatakan bahwa ketenangan adalah kekuatan yang amat luar biasa.

 

 

B. Saran

Adapun yang dapat disampaikan penulis berkenaan dengan Problem Solving di dalam  Al-Quran yaitu :

1.      Bagi pemimpin sebuah organisasi, terkhusus bagi organisasi-organisasi yang berbasis Islam hendaklah menjadikan problem solving yang ada didalam Alquran sebagai sumber rujukan utama dan diaplikasikan di dalam menghadapi msalah. Terkhusus bagi Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negri Sumatera Utara untuk senantiasa meningkatkan kualitas dan kuantitas Fakultas dalam rangka memecahkan masalah umat yang begitu kompleks.

2.      Begitu juga bagi para pemimpin-pemimpin organisasi hendaklah memperhatikan keimanan, kesabaran serta berawakkal kepada Allah ketika menjalankan setiap aktivitas keorganisasian yang sedang dijalankan terkhusus dalam memcahkan sebuah masalah yang kemungkinan besar akan di hadapi.

3.      Untuk kalangan mahasiswa maupun peneliti ke depannya, diharapkan hendaknya hasil penelitian ini dapat dilanjutkan dan diperdalam lagi agar dapat menghasilkan hasil yang lebih baik demi keberhasilan dakwah selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Google : http://repository.uinsu.ac.id/4342/1/Skripsiku%20Full.pdf

 

Comments